Di Palestina: Masjid Al Aqsha (Telah) Dibagi, Masih Adakah Yang Peduli?

Posted on

Masjid Al Aqsha
Gema takbir itu terus menggemuruh di dada para murabithun. Menentang kesewenangan tirani zionis tanpa henti dengan modal tekad, keyakinan dan kemuliaan Al-Aqsha yang harus terus terjaga. Jumlah mereka tidak banyak, setidaknya ada 20-an orang selalu terlihat di garda terdepan menentang zionis Israel yang kerap masuk bergerombol, lengkap dengan penjagaan yang ketat dari pihak keamanan Israel.

Kebanyakan mereka dari kalangan wanita yang sudah berkeluarga. Kisaran umurnya pun cukup beragam, 35 tahun hingga menjelang 45 tahun. Bahkan mereka juga membawa serta anak-anak remaja mereka. Mereka ingin menanamkan, Al-Aqsha adalah kiblat pertama umat Islam. Al-Aqsha bukan milik warga Al-Quds, bukan milik bangsa Palestina semata. Namun Al-Aqsha adalah milik segenap umat Islam di belahan bumi manapun. Begitu juga dengan tanggung jawab pemeliharaannya, terbebankan juga di pundak segenap umat Islam.

Kelompok kecil yang terus tanpa lelah meneriaki kezaliman Israel ini dikenal dengan istilah murabithun dan murabithat. Mereka adalah para penjaga, juga sekaligus sebagai abdi dalem Masjid Al-Aqsha yang hanya berharap pahala dari Allah SWT. Secara sukarela mereka datang ke Al-Aqsha, dari pukul 7.30 pagi hingga kadang pukul 17.00, rutin setiap hari. Dalam keadaan normal bila tidak ada larangan masuk dari pihak Israel, mereka biasa melakukan ibadah, pengajaran berbagai disiplin ilmu agama termasuk melakukan kegiatan sosial lainnya.

Saat warga Israel, terutama dari kelompok ekstrimis Yahudi yang sengaja melakukan penyerbuan dan pendudukkan terhadap Al-Aqsha, dengan pengawalan ketat polisi Israel. Para pemukim Yahudi yang melakukan penistaan kepada kiblat pertama umat islam ini, selalu beralasan untuk melakukan ritual keagamaan mereka, namun sayang kenapa di Al-Aqsha?. Di mata Zionis Israel, upaya ini bukan kemarin sore, namun ini merupakan bagian strategi atau upaya menggiring opini dunia, Al-Aqsha adalah bagian dari zionis Israel.

Ada dua strategi yang mereka pakai untuk menggiring opini dunia dengan cara membagi Al-Aqsha secara waktu dan tempat. Pertama, pembagian Masjid Al Aqsha secara waktu (at taqsim az zamany), membagi waktu tertentu untuk ibadah Yahudi dan di waktu yg lain untuk ibadah kaum Muslimin. Pemerintah Israel telah menerapkan kebijakan ini dengan cara melarang kaum Muslimin memasuki Masjid Al-Aqsha di waktu pagi dan mengkhususkannya untuk ibadah orang-orang Yahudi.

Sedangkan kedua, pembagian Al-Aqsha secara tempat (at taqsim al makany), mereka mengkhususkan sebagian area Masjid Al Aqsha untuk membangun sinagog Yahudi, sebagai tahap awal mendirikan Salomon Temple palsu. Hal ini telah dimulai akhir-akhir ini oleh pemerintah Israel dengan merampas sebagian wilayah pemakaman Ar-Rahmah yang berdempetan dengan Masjid Al-Aqsha. Strategi ini sebagai tahap awal untuk membuka gerbang yang menyambungkan ke area timur Al-Aqsha, lokasi dimana nantinya akan dibangun sinagog.

Akibat dari Program pembagian ini, hingga Rabu (9/9/2015) sudah masuk hari ke-15 Israel melarang para murabithah masuk ke Al-Aqsha. “Al-Aqsha dalam bahaya. Demi Allah, kelak kita ditanya Allah tentang ini,” kata Ummu Mahmud, salah seorang murabithah. Di tangan mereka tak ada yang tersisa. Selain teriakan, takbir, penolakan, melawan dengan tangan kosong, hanya itu. “Sekali lagi, kelak kita pasti ditanya Allah!,” ujarnya.

Adakah kita masih punya semangat sekedar mengingat Al-Aqsha? Umar bin Khattab mengajarkan kita, Bait Al Maqdis adalah amanah sepanjang zaman, maka dari Yarmouk ia memulai. Sultan Nuruddin Zangki, tidak dapat tidur nyenyak dan tidak dapat makan enak, di setiap sudut pikirannya, Al-Quds. “Bagaimana aku tersenyum, sementara Al-Quds terjajah.”

Sultan Salahuddin, delapan tahun tanpa henti sadarkan ummat, Al Quds harus dikembalikan ke pangkuan ummat Islam. Maka di Hittin pembuktiannya. Jumat 21 Agustus 2015 bertepatan dengan 21 Agustus 1969 silam, Al Aqsha dibakar ekstrimis Yahudi. Adakah kita sempat mengingatnya?

Bahkan, sampai hari ini, Al-Aqsha masik ditutup untuk umat islam terutama bagi para murabithah. Kenapa kita masih menutup mata? Langit sudah marah dengan mengirim badai pasir ke kota Al-Quds. Adakah kita masih semangat memburu keberkahan Allah dari Tanah dan Tempat Suci yang diberkahi?

Kita patut khawatir tidak merasakan keberkahan itu, atau bahkan sudah dicabut Allah, karena ketidak pedulian kita terhadap Al-Aqsha. Padahal keberkahan itu terus melekat dan tidak pernah dicabut Allah dari Al-Aqsha. Bukankah surat Al-Isra’ yang selalu kita baca mengingatkan kita?

Azhar Suhaimi, Lc
Kepala Biro Kajian dan Informasi KNRP Pusat
sumber: knrp

Share Button
Loading Facebook Comments ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *